Nikmatnya Hidup Berpedoman dengan Al-Qur’an

Posted: May 5, 2013 in Uncategorized

NIKMATNYA HIDUP BERPEDOMAN DENGAN AL-QUR’AN

GambarAl-Qur’an adalah sumber kemuliaan. Siapapun yang menjadikan Al-Qur’an sebagai panduan hidup, maka tidak ada yang akan dia dapatkan selain kemuliaan. Hidup bersama Al-Qur’an adalah kenikmatan tiada tara. Lalu, bagaimana cara mendapatkannya?

Al-Qur’an adalah sumber kemuliaan. Siapapun yang menjadikan Al-Qur’an sebagai panduan hidup, maka tidak ada yang akan dia dapatkan selain kemuliaan (QS Al-Anbiyaa [21]: 10). Namun, siapa pun yang berpaling dari tuntutan Al-Qur’an, maka Allah akan memberikan kesempitan dalam hidupnya (QS Thahaa [20]: 124).

Karena itu, syarat paling mendasar dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an adalah bagaimana kita mampu menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup sehari-hari.

Ada empat keuntungan yang akan kita peroleh bila berinteraksi dengan Al-Qur’an. Pertama, melahirkan jiwa yang sabar. Banyak kisah tentang cobaan berat yang menimpa para pejuang Islam. Mereka diintimidasi, disiksa, dipenjarakan, bahkan dibunuh. Namun kebersamaannya dengan Al-Qur’an membuat mereka menjadi orang-orang yang sangat tabah. Nadimah Khatul, seorang mujahidah Afghanistan, contohnya. Beliau dipenjarakan oleh kaum komunis selama enam tahun. Dan ia mengatakan, “Kami mengalami berbagai siksaan berat. Namun membaca dan mengkaji Al-Qur’an membantu kami bersabar dan bertahan menghadapinya”.

Kedua, melembutkan hati. Seorang ulama mengatakan, “Sesungguhnya hati itu mengkristal sebagaimana mengkristalnya besi, maka lembutkanlah ia dengan Alquran”.

Ketiga, mengokohkan hati. Difirmankan, Dan semua kisah rasul-rasul, Kami ceritakan kepadamu (Muhammad), agar dengan kisah itu Kami teguhkan hatimu (QS Hud [11]: 120).

Keempat, sebagai nasihat dan obat tatkala hati sedih dan gundah. Allah SWT berfirman, Wahai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu nasihat dari Tuhanmu dan obat bagi yang ada di dalam dada, petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman (QS Yunus [10]: 57).

Cara berinteraksi dengan Al-Qur’an
Hidup bersama Al-Qur’an adalah kenikmatan tiada tara. Lalu, bagaimana cara mendapatkannya? Langkah pertama adalah membacanya (tilawah).

“Orang-orang yang telah Kami berikan Al-Kitab mereka senantiasa membacanya dengan sebenar-benarnya bacaan (haqqut tilawah), mereka itulah orang-orang yang beriman kepadanya…” (QS Al-Baqarah [2]: 121).

Haqqut tilawah dalam ayat tersebut adalah berfungsinya lisan, akal, dan hati ketika melantunkan Al-Qur’an. Lisan berfungsi dengan baik ketika mampu mentartikannya. Berfungsinya akal adalah dengan memahami isi ayat yang dilantunkan. Sedangkan berfungsinya hati adalah dengan merenungkan nasihat-nasihat yang terkandung di dalamnya.

Dikisahkan, Imam Rafi’i bin Mahran pernah menderita penyakit akalah, yaitu sejenis tumor tulang pada bagian lutut. Satu-satunya cara untuk menghilangkan penyakit tersebut adalah dengan mengamputasi kaki. Waktu itu dokter menawarkan khamr untuk meredam rasa sakit tatkala proses amputasi dilakukan. Tapi Imam Rafi’i menolak dan ia mengatakan, “Aku punya obat yang lebih mujarab dari apa yang engkau tawarkan kepadaku. Datangkan saja kepada saya seorang qari.”

Selanjutnya ia berkata, “Dokter, apabila ayat Al-Qur’an tengah dilantunkan dan anda melihat muka saya memerah dan mata saya terbelalak, itulah saat yang tepat untuk memotong kaki saya”.

Ketika qari melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an, memerahlah muka serta terbelalaklah mata Imam Rafi’i. Khususnya saat ia mendengar ayat yang berisi peringatan serta ancaman Allah SWT Imam Rafi’i merasakan seolah-olah ancaman itu ditujukan pada dirinya. Saat itulah dokter mulai memotong urat-urat serta menggergaji tulang kaki. Subhanallah, tidak terdengar satu pun keluhan yang keluar dari mulut lelaki saleh ini.

Mengkaji Al-Qur’an
Setelah membaca, interaksi seorang Muslim dengan Al-Qur’an adalah mengkaji serta memahaminya. Hal ini tidak terlepas dari fungsi Alquran sebagai pedoman hidup (QS Al-Baqarah [2]: 2).

Secara redaksional, Al-Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab. Akibatnya, kita tidak bisa merealisasikan fungsi Al-Qur’an sebagai petunjuk bila Alquran hanya dibaca saja. Karena itu, memahami Al-Qur’an secara baik dan benar menjadi kewajiban seorang Muslim.

Ada beberapa syarat yang ditetapkan para ulama agar tidak terjadi penyimpangan dalam menafsirkan Al-Qur’an di antaranya: (1) Memiliki akidah yang benar, (2) Bersih dari hawa nafsu, (3) Adil, (4) Memiliki pengetahuan bahasa Arab. Sebab, Allah SWT menurunkan Al-Qur’an dalam bahasa Arab (lihat QS Az-Zukhruf [43]: 2), dan (5) Menguasai ilmu-ilmu Al-Qur’an

Memahami Al-Qur’an

Pertama, memahami Al-Qur’an dengan Al-Qur’an itu sendiri (tafsir Al-Qur’an bil Al-Qur’an). Sesungguhnya Al-Qur’an merupakan penjelas yang membenarkan satu bagian dengan bagian lainnya.

Rasulullah SAW bersabda, “Sementara Allah menurunkan kitab-Nya untuk saling membenarkan satu sama lain.” (HR Bukhari).

Contoh ayat yang ditafsirkan dengan ayat lain:

Dalam QS Al-Fatihah [1] ayat 7,”(yaitu) orang-orang yang telah Engkau berikan nikmat kepada mereka.” Dalam ayat ini tidak dijelaskan siapa orang-orang yang diberikan nikmat itu. Maka Allah SWT menjelaskan dalam QS An-Nisa [4] ayat 69, ”Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya) mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi, shiddiqin, syuhada, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah sebaik-baik teman.”

Kedua, Memahami Al-Qur’an dengan sunah nabi yang shahih. Ibnu Taimiyyah berkata, “Cara yang paling shahih dalam memahami Al-Qur’an adalah menafsirkan Al-Qur’an dengan Al-Qur’an. Jika engkau tidak menemukan itu maka engkau mengambil sunnah, karena ia adalah penjelas Al-Qur’an”.

Imam Syafi’i mengatakan bahwa seluruh apa yang dihukumkan oleh Rasulullah SAW adalah dari apa yang beliau dapat dari Alquran. Contoh pemahaman Alquran dengan sunah: dalam Al-Qur’an ada beberapa ayat yang memerintahkan shalat. Namun, penjelasan bagaimana melakukan shalat hanya akan kita temukan dalam sunnah.

Rasulullah SAW bersabda, “Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat.”

Ketiga, memahami Al-Qur’an dengan pemahaman para sahabat dan tabi’in. Imam Ibnu Taimiyyah mengatakan, “Jika engkau tidak menemukan tafsir dalam satu ayat Al-Qur’an, tidak juga dalam sunah, maka engkau harus mencarinya dalam perkataan para sahabat. Mereka paling mengetahui hal itu, sebab mereka melihat (qarain) situasi yang terjadi pada saat Al-Qur’an itu diturunkan. Ditambah dengan ketinggian kemampuan bahasa dan kejernihan pemahaman mereka.”

Contoh, pemahaman mereka terhadap kalimat “jalan yang lurus” dalam QS Al-Fatihah [1] ayat 6. Maksudnya adalah Islam atau Al-Qur’an atau sunnah Nabi atau sunah Khulafaur Rasyidin.

Pemahaman yang benar terhadap Al-Qur’an akan melahirkan sikap yang benar. Insya Allah.

Wallahu A’lam

Wassalam ……

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s