Harta dan Kekayaan Tidak Bisa Menjamin Keluarga Bahagia

Posted: May 3, 2013 in Uncategorized

Di Bawah ini Ada Cerita yang Menarik & Mengharukan, bahwa Harta tidak Bisa Menjadi Jaminan Hidup Bahagia
____________________________________________________________________

 GambarSuatu hari saya menjemput temanku  yang lagi berada di stasiun depok, sambil menunggu kedatangan temanku, saya duduk di depan musholla sambil minum secangkir kopi dan menghisap sebatang rokok, tiba-tiba ada cewek cantik yang menghampiri saya mau meminjam sendal jepit untuk berwudlu, setelah cewek selesai sholat ashar saya ngobrol dengannya.

 

Cewek tadi bertanya kepada saya “ bang kamu sudah menikah?

Jawab saya boro2 nikah pacar aja belum punya neng. hehehehehe

Kemudian cewek tadi bertanya lagi kenapa gak cari cewek?

Saya hanya bisa tersenyum gak bisa menjawab. Dan saya bertanya

La neng nunggu siapa?

Saya nunggu suami bang,” jawabnya.

Saya melihat cewek tadi megang Ipad & BlackBarry di benak saya wah pasti ini orang kaya.

Saya bertanya neng kerja di mana?

Alhamdulillah saya kerja di perkantoran tapi saya mau keluar bang,

Kenapa? Tanya saya

Dia menjawab dengan saya keluarlah saya bisa menghormati suami.

Setelah ngobrol agak lama dia bilang bolehkah saya cerita sedikit? Silahkan neng siapa tau bisa menjadi pengalaman, jawab saya

Saya bekerja di kantor, mungkin tak perlu saya sebutkan nama kantornya. Gaji saya 4.5 juta per bulan. Suami saya bekerja sebagai penjual gorengan di pagi hari sampai sore. Kami menikah baru 3 bulan, dan kemarin untuk pertama kalinya saya menangis karena merasa durhaka padanya.

Waktu itu jam 20.15 malam, suami baru menjemput saya dari kantor, hari ini lembur, biasanya sore jam 4 sudah pulang. Saya capek sekali. Saat itu juga suami juga capek seharian jualan gorengan. Dan parahnya saya juga lagi pusing . Suami bilang dek ambilkan air minum, tapi saya malah berkata: ‘mas saya juga nih, ambil sendirilah kenapa”

 

Saya langsung tidur hingga lupa shalat isya. Jam 01.30 saya terbangun dan cepat-cepat shalat. Alhamdulillah capek pun telah hilang. Beranjak dari sajadah, saya melihat suami saya tidur dengan nyenyak. Menuju ke dapur, saya liat semua piring sudah bersih tercuci. Siapa lagi yang bukan mencucinya kalau bukan suami saya. Terlihat lagi semua baju kotor telah dicuci.
Astaghfirullah, kenapa Mas mengerjakan semua ini? Bukankah Mas juga capek tadi malam ? Saya segera masuk lagi ke kamar, berharap Mas sadar dan mau menjelaskannya, tapi rasanya Mas terlalu lelah banget.
Rasa khawatir mulai memenuhi jiwa saya, saya pegang wajah suami saya itu. Ya Allah panas sekali pipinya, keningnya.

Masya Allah, Mas demam, tinggi sekali panasnya. Saya teringat atas perkataan terakhir saya pada suami tadi. Hanya disuruh mengambilkan air minum saja saya membantahnya. Air mata ini menetes, betapa selama ini saya terlalu sibuk di luar rumah, tidak memperhatikan hak suami saya.”

“Abang tahu berapa gaji suami saya ? Sangat berbeda jauh dengan gaji saya. Kira –kira sekitar 600-700 ribu per bulan. Hanya sepersepuluh dari gaji saya. Dan malam itu saya benar-benar merasa durhaka pada suami saya. Dengan gaji yang saya miliki, saya merasa tak perlu meminta nafkah pada suami, meskipun suami selalu memberikan hasil jualannya itu pada saya. Dan setiap kali memberikan hasil jualannya, ia selalu berkata, ‘Dek, ini ada titipan rezeki dari Allah. Diambil ya buat keperluan kita. Tidak banyak jumlahnya, mudah-mudahan kamu ridha dek.’
Kenapa baru sekarang saya merasakan dalamnya kata-kata itu. Betapa harta ini membuat saya sombong pada nafkah yang diberikan suami saya”, lanjutnya

“Alhamdulillah saya sekarang memutuskan untuk berhenti bekerja, mudah-mudahan dengan jalan ini, saya lebih bisa menghargai nafkah yang diberikan suami. Wanita itu begitu susah menjaga harta, dan karena harta juga , wanita sering lupa kodratnya, dan gampang menyepelekan suami,” lanjutnya lagi tanpa memberikan kesempatan bagiku untuk bicara.

kemudian cewek tadi bergegas ingin meninggalkanku. Kulihat dari kejauhan seorang laki-laki dengan menggunakan sepeda motor Astrea Grand mendekat ke arah kami, wajahnya ditutupi slayer, meskipun tak ada niatku menatap mukanya. Sambil mengucapkan terimakasih sendalnya ya bang, dan meninggalkanku. Wajah dia itu tenang sekali, wajah seorang istri yang begitu ridha kepada suami

 

Dari cerita ini lah saya mempunyai asumsi bahwa harta kekayaan tidah bisa menjamin kebahagiaan rumah tangga, toh sebenarnya harta itu juga penting untuk biaya hidup sehari-hari, menurut saya pribadi kebahagiaan bisa di raih ketika pasangan saling menghargai, saling menutupi kekurangan masing-masing dan menerima apa adanya nikmat yang telah di berikan oleh Allah kepada kita, dengan bersyukur lah rumah tangga bisa menjadi bahagia.

Semoga ada hikmah dan bermanfaat.

Wassalammu’alaikum wr. wb.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s